Etika
Bisnis
Etika
bisnis adalah penerapan prinsip prinsip etika yang umum pada suatu wilayah
perilaku manusia yang khusus, yaitu kegiatan ekonomi dan bisnis.
Prinsip-prinsip etika tidak berdiri sendiri, tetapi tercantum dalam suatu
kerangka pemikiran sistematis yang kita sebut ”teori".
Secara
konkret teori etika ini sering terfokuskan pada perbuatan. Ditanyakan: apa yang
mengakibatkan perbuatan ini menjadi baik, sedangkan perbuatan lain tanpa ragu
ragu kita tolak sebagai buruk atau malah buruk sekali? Kita mencari fundamen
rasional untuk penilaian kita itu. Tentu saja, kalau di sini kita berbicara
tentang ”perbuatan yang baik”, yang kita maksudkan adalah baik dari sudut
moral, bukan dari sudut teknis atau sebagainya. Bisa saja, menurut segi
teknisnya suatu perbuatan adalah baik sekali, walaupun dari segi moral
perbuatan itu justru buruk dan karena itu harus ditolak.
Utilitarianisme
Dengan
memperhatikan asal usul istilah ini kita sudah bisa menduga mak sudnya.
"Utilitarisme" berasal dari kata Latin utilis yang berarti
”bermanfaat”. Menurut teori ini suatu perbuatan adalah baik jika membawa
manfaat, tapi manfaat itu harus menyangkut bukan saja satu dua orang melainkan
masyarakat sebagai keseluruhan. Jadi, Utilitarisme ini tidak boleh dimengerti
dengan cara egoistis. Menurut suatu perumusan terkenal, dalam rangka pemikiran
utilitarisme (utilitarianism) kriteria untuk menentukan baik buruknya suatu
perbuatan adalah the greatest happiness of the greatest number, kebahagiaan
terbesar dari jumlah orang terbesar. Perbuatan yang sempat mengakibatkan paling
banyak orang merasa senang dan puas adalah perbuatan yang terbaik.
Utilitarisme
disebut lagi suatu teori teleologis (dari kata Yunani telos = tujuan), sebab
menurut teori ini kualitas etis suatu perbuatan diperoleh dengan dicapainya
tujuan perbuatan. Perbuatan yang memang bermaksud baik tetapi tidak
menghasilkan apa apa, menurut utilitarisme tidak pantas disebut baik. Menepati
janji, berkata benar, atau menghormati milik orang adalah baik karena hasil
baik yang dicapai dengannya, bukan karena suatu sifat intern dari per buatan
perbuatan tersebut. Sedangkan mengingkar janii, berbohong, atau men curi adalah
perbuatan buruk karena akibat buruk yang dibawakannya, bukan karena suatu sifat
buruk dari perbuatan perbuatan itu. Utilitarisme dapat memberi tempat juga
kepada pengertian "kewajiban”, tapi hanya dalam arti bahwa manusia harus
menghasilkan kebaikan dan bukan keburukan.
Dalam
perdebatan antara para etikawan, teori utilitarisme menemui banyak kritik.
Keberatan utama yang dikemukakan adalah bahwa utilitarisme tidak berhasil
menampung dalam teorinya dua paham etis yang amat penting, yaitu keadilan dan
hak. Dengan maksud mencari jalan keluar dari kesulitan terakhir ini, beberapa
utilitaris telah mengusulkan untuk membedakan dua macam utilitarisme:
Utilitarianisme perbuatan (act utilitarianism), dan utilitarisme aturan (rule
utili tarianism). Yang dijelaskan di atas mereka tegaskan adalah utilitarisme
perbuatan. Di situ prinsip dasar utilitarisme (manfaat terbesar bagi jumlah
orang terbesar) diterapkan pada perbuatan.
Manfaatnya
Dalam Bisnis
Utilitarianisme sebagai teori etika
cocok sekali dengan pemikiran ekonomis. Misalnya, teori ini cukup dekat dengan
cost benefit analysis yang banyak dipakai dalam konteks ekonomi. Manfaat yang
dimaksudkan Utilitarianisme bisa dihitung juga sama seperti kita menghitung
untung dan rugi atau kredit dan debet dalam konteks bisnis. Dan memang pemah
ada penganut Utilitarianisme yang mengusahakan perhitungan macam itu di bidang
etika.
Kesimpulan
Kita
dapat menyimpulkan bahwa Utilitarianisme aturan membatasi diri pada justifikasi
aturan-aturan moral. Dengan demikian mereka memang dapat meng hindari beberapa
kesulitan dari Utilitarianisme perbuatan. Karena itu Utilitarianisme aturan ini
merupakan suatu upaya teoritis yang menarik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar